Cerita Saya : Memulai di Adonara


Setelah mengikuti kelas onboarding sebulan lamanya dengan uji coba turun ke lapangan sebagai petugas, kami para lulusan baru yang lolos dengan 16 orang ini dibuat begitu gugup karena isi kontrak yang 15 bulan lamanya ditandatangani dengan kesepakatan siap ditempatkan dimana saja. Diperhadapkan dengan hari pembagian penempatan kami, saya yang mengandalkan keyakinan percaya bahwa yang Maha Kuasa akan menempatkan saya ditempat dimana saya mampu, beradaptasi, menunjukan potensi, dan menunjukan profesionalitas diri, pun akhirnya tetap merasakan perasaan takut ditempatkan di tempat baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Benar saja, apa yang saya pikirkan terjadi, Adonara, pulau yang tidak pernah terpikirkan oleh saya, pulau yang benar-benar dalam hidup saya tidak pernah dibicarakan oleh lingkungan saya. Pulau kecil yang menjadi bagian satu bagian kecil dari Flores ini dalam benak saya tergabung dalam daratannya, ternyata, terbalik dari pikiran saya, Flores pun di bagian timurnya mirip dengan bagian barat yang adalah kepulauan, Adonara salah satunya yang berada di timur. Kesanalah arah mata angin dan pekerjaan ini membawa saya, dengan latar belakang saya yang benar-benar dijaga oleh ibunda untuk tidak keluar dari rumah, hari demi hari, rayuan-rayuan untuk merasakan dunia pekerjaan selalu saya pikirkan untuk melunakkan hati sang ratu, apalagi saya tidak pernah memberitahunya bahwa kontrak ini akan membawa saya mengelilingi Bali Nusra, agar ia tetap tahu bahwa saya akan terus di sekeliling rumah. Lahir lebih duluan membuat ia lebih tau bagaimana Adonara, watak-watak orang yang keras, begitulah ia mengenal Adonara yang membuat kerja dalam merayu semakin keras. Akhirnya, lelaki bungsu ini dilepas untuk merasakan pengalaman yang diinginkan. Berat? tentu berat, tetapi lebih berat jika tidak dicoba, dalam nama Tuhan Yesus, perjalanan panjang ini pun dimulai.

Berkenalan dengan Adonara

Bersandar pada budaya kekeluargaan yang tinggi di Nusa Tenggara Timur, saya terus berharap ada satuatau dua kenalan yang hidup lebih duluan di Adonara, maka usaha kami lakukan untuk terus mencari orang-orang bertumpu pada relasi ibu dan ayah yang cukup besar, nihil yang didapat, ternyata Adonara cukup tersembunyi untuk keluarga besar kami. Akhirnya saya berjalan hanya terpaku pada hubungan kerja yang akan dibangun, dengan pikiran bahwa rasa sosial yang tinggi di provinsi ini akan membuat saya disambut baik oleh para karyawan terdahulu. Minggu-minggu pun terlewati, rasa takut dan hampa masih ada karena tidak ada satu orang pun yang saya kenal untuk saya sekedar merasa ada rumah untuk pulang, tapi benar, Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-Nya, lebih dari itu, perbuatan-perbuatan baik yang ditanam oleh orangtua saya benar-benar saya tuai sekarang. Telepon berdering dari tetangga yang sudah dianggap saudara, memberitahukan bahwa sudah ada yang akan menjemput saya seketika tiba di Bandara Larantuka yang menjadi tempat mendarat sebelum meneruskan perjalanan laut ke Adonara. "Pi sa nanti dong su tunggu di Bandara", ya itulah salah satu kebaikan yang dipupuk dengan baik oleh orangtua saya yang bisa saya rasakan oleh saya sekarang.

Begitulah bagaimana saya sampai di Larantuka, sebelum pergi ke penempatan, dikenalkan dengan baik, disambut dengan hangat, walaupun ditutup dengan tradisi yang kurang baik dalam lingkup orang-orang kita, saya tetap merasa berada dalam keluarga, diperhatikan sebelum saya bertemu dengan kawan kerja yang akan bersama-sama pergi ke Adonara keesokan harinya. Tidur dengan teler karena dicekoki budaya, akhirnya teman kerja saya pun menyambut saya dengan senang, seperti kakak yang menyambut kepulangan adiknya, hilang semua gambaran orang-orang Flores berwatak keras. Kehangatan itu terus saya rasakan sampai saya di "serah terimakan" kepada teman kerja saya di malam hari  agar bersama-sama melakukan perjalanan menuju Adonara yang adalah kecamatan bagian dari Kabupaten Flores Timur walaupun dalam bentukkannya ia adalah sebuah pulau dengan potensi besar tersendiri

Tertatih di Pulau Kecil Adonara

Menginjakkan kaki di depan teras mess yang disediakan kantor, saya kemudian dibuat bingung dengan cerita dua pihak antara sang kepala yang adalah orang baru dikantor dengan para karyawan lama yang sudah setahun menghuni kantor tersebut. Satu sisi sang kepala mengatakan para karyawan yang senior terus membuat dia kewalahan melaksanakan tugasnya sebagai kepala untuk mengarahkan mereka, apalagi mereka sudah lebih dahulu mengetahui sistem kerja kantor, tetapi sisi lain para karyawan mengatakan sang kepala tidak begitu tegas dan malah lebih tidak mengetahui sistem kerja kantor. Bimbang yang saya rasakan ini memaksa adaptasi harus cepat dilakukan untuk memagari kesalahan-kesalahan yang mungkin akan terasa seperti mengadu-dombakan para pekerja di kantor ini, tentu pengambilan keputusan untuk lebih memihak kepada kepala adalah hal yang saya harus lakukan karena rasa rasionalis para petugas bahwa ia lebih menguasai metode kerja akan berdampak buruk jika selama ini ternyata cara kerja yang mereka rasa benar sama sekali tidak sesuai prosedur kerja dari perusahaan ini sendiri, namun, hari demi hari dilewati, kebimbangan ini terus menggunung, ditambah lagi para pekerja yang tidak sedikit pun mau saya ikuti, balutan kemunafikan terus saya rasakan setiap harinya, ketegangan dalam kantor tidak bisa ditutupi, ditambah lagi pengeluhan sang kepala terus berulang setiap harinya, memulai dengan kebimbangan dan pulang dengan kegelisahan adalah yang setiap hari saya rasakan. Diluar itu semua, saya tetap diperlakukan sangat baik, dilayani seperti saudara. Kemunafikan terus terjadi sampai kebaikan itu terasa kabur oleh isi kepala sendiri, entah harus bertingkah seperti apa menerima kebaikan mereka.

Pelan-pelan kemunafikan mulai terbongkar dan sifat-sifat baik mereka mulai menghilang, seperti menaruh bom waktu di sela-sela pintu karir mereka, terlihat mereka, para karyawan menyembunyikan sebuah masalah besar sampai tidak mau didampingi oleh saya untuk melihat kerja mereka, mereka bahkan membuat saya tak bisa menjalankan tujuan saya, yang adalah belajar dari para senior, mereka rela menukar waktu kerja mereka untuk menyembunyikan kesalahan mereka dan merayu saya tidak mengikuti mereka. Anak baru ini yang belum diberikan fasilitas yang memadai seperti user dan kendaraan sendiri untuk melakukan pekerjaan seperti saya ini, haruslah menerima bagaimana senior-senior ini memperlakukan saya, diiringi dengan keluhan hati sang kepala, dan bagaimana dia tidak dihargai di kantor sebagai kepala yang diperlakukan dengan kemunafikan setelah saya berada, dia sedikit bersyukur, bahwa akhirnya ada yang menghargai dia sebagai kepala, mendengar setiap perintahnya, melakukan dengan patuh, yang pastinya perintah itu diberi dengan pemikiran akan metode kerja dan tujuan yang akan dicapai.

Semua akhirnya terkuak, permainan monopoli antara para karyawan lama memberi ledakan besar untuk keselarasan dalam kantor, semua orang benar-benar merasakan ledakan tersebut karena mereka semua benar-benar terlibat dalam permainan yang dijalankan para karyawan senior, pembelaan terhadap diri dan teman, serta penganiayaan verbal terhadap sang kepala dan saya sebagai orang baru pun terangkat ke permukaan, padahal belum ada tindakan apa-apa yang kami lakukan. Merasa kondisi itu terus memperparah dan menakutkan untuk proses kerja. Kami, saya dan sang kepala mulai merencanakan dan mempersiapkan semua hal untuk mengeluarkan ledakan-ledakan yang terus terjadi, seperti menindak pelaku kriminal, kami berdua mengambil jalan pintas, meminta keterangan pada setiap korban dampak fraud yang dilakukan para senior. Semua berjalan sesuai rencana, sambil terus mengambil keterangan dari para korban, kami pun menanyakan kejujuran pada para senior untuk melihat profesionalitas mereka dalam bekerja dan mungkin ada sedikit kesalahan yang mereka lakukan tanpa sengaja karena mereka pun punya kebutuhan lain seperti yang satunya baru saja menikah dan akan mempunyai anak dan satu lagi ditinggal istri dan harus membesarkan anaknya sendiri. Bukannya belajar dan merasa bersalah atas apa yang telah melakukan, mengambil hak banyak orang yang didapat dari hasil jeri payah, mereka malah melaporkan tindakan-tindakan kecil saya yang merugikan saya sebagai pegawai kontrak dengan pinalti yang besar.

Tulisan sebelumnya : Tentang Blog

Masalah baru pun menguap cepat seperti air mendidih, saya yang dibawa emosi langsung menembak laporan menembus pada tingkat pusat tanpa pikir panjang, dicela begitu hebat karena melanggar struktur, saya akhirnya ditempatkan pada posisi tanpa penjagaan, diserang berbagai arah, apalagi dengan para senior yang sejatinya orang asli Lamaholot, memang mereka orang Larantuka, tapi mereka sudah seperti tuan tanah di Adonara. Takut dan cemas pasti ada, saya yang seharusnya dipihak yang benar malah merasa bersalah karena memotong nasib orang dalam menunjang kehidupannya, ditambah lagi seiring masalah yang berjalan saya dipaksa mengikuti mereka berdua, melihat cara kerja mereka yang sudah tertangkap basah. Keringat dingin menyertai setiap perjalanan, bahwa bisa saja dia melakukan hal-hal diluar kendali dengan gelap mata. Kemunafikan terus terjadi karena mereka selalu dianggap baik oleh kelompok-kelompok yang mereka pegang, pun mereka sudah tahu bahwa akhirnya karir mereka harus hangus karena perbuatan mereka sendiri dan perjumpaan-perjumpaan yang disertai oleh saya akhirnya dipenuhi dengan ucapan selamat tinggal, perpisahan pun harus terjadi karena apa yang mereka buat sendiri, ternyata di beberapa kelompok mereka dikenal sangat membantu orang keluar dari kesulitan mereka, tangisan dan air mata menyertai, iba dan empati saya pun tak tertahan, bahkan saya tidak tahu apa yang menjadi motivasi mereka terus melakukan hal-hal keji mengambil hak orang yang bahkan di sisi yang lain mereka selalu diperhatikan oleh orang-orang yang merasa terbantu dengan kehadiran mereka. Rasa bersalah ditimbulkan dalam kondisi-kondisi ini, seperti merenggut hidup orang dari apa yang harusnya mereka dapatkan, tetapi memang perbuatan-perbuatan ini seharusnya diperbaiki bukan terus dilanjutkan.

Sampai pada tahap mengikhlaskan, mereka rasanya tidak benar-benar menerima apa yang mereka dapatkan, orang baru datang menggoyang kursi mereka dan menjatuhkan mereka begitu saja dari singgasana mereka, perbuatan mereka membuat anak-anak yang seharusnya tidak terlibat harus merasakan dampaknya, memberi racun bagi karyawan baru. Namun, tindakan dari perusahaan yang sudah mengetahui kecurangan mereka tidak sedikit pun memberi ampun, tindak tegas itu terbaca cepat oleh sang kepala yang langsung merekrut teman-teman lamanya yang bekerja dalam bidang yang sama langsung masuk di minggu-minggu kepergian mereka agar mengenal benar kelolaan para senior ini dan pada akhirnya terkuak semua permainan mereka yang ternyata sudah begitu besar menjangkit para pemakai produk perusahaan, para orang baru yang di rekrut pun harus memutar otak, menahan bantingan para klien karena hak mereka yang diambil begitu besar daripada apa yang harus mereka kembalikan.

Saya yang walaupun sudah dibekali dengan metode dan cara kerja yang baik, tanpa pengalaman di bidang ini pun juga harus benar-benar memikirkan bagaimana menangani dan membantu memperbaiki lubang besar yang para senior ini gali. Sebulan bukan waktu yang cukup untuk mempelajari semua teori yang telah dipelajari dan menerapkannya dilapangan dengan kondisi yang tidak ideal seperti ini, menjelaskan sebaik mungkin tanpa menyinggung berbagai pihak adalah salah satu yang paling sulit, karena tuntutan dari para klien terus menerpa petugas baru seperti topan menghantam dataran rendah. Begitu keras badai yang mereka tinggalkan untuk para rekrutan baru ini. Apalagi bayang-bayang mereka yang masih ada dikantor,ya, mereka belum mau melepaskan status mereka walaupun sudah nyata didepak oleh perusahaan, mungkin karena cara sang kepala membungkus masalah ini agar mereka tidak terlihat didepak, tetapi seperti bensin tersulut api begitulah kabar dari atasan menjadi dua arah dan dinasti yang sudah dibuat memudahkan mereka menerima kabar bahwa mereka telah dikeluarkan oleh perusahaan.

Penyertaan yang Sempurna

Begitu mendapat kabar yang jelas, murka mereka berubah menjadi bara yang meletup-letup, tentu terhadap saya, karena kedatangan saya dari awal, mereka tidak bisa lagi menekan sang kepala dan kedatangan saya membuat semua kesalahan mereka seperti disinari lampu sorot yang diikuti kemana pun mereka bergerak. Mereka mencari saya, namun karena saya telah menerima kabar dan ancaman terlebih dahulu, langkah preventif saya pertama-tama setelah mereka keluar dengan murka dari kantor adalah mencari kenalan yang tentunya saya tidak punya, entah darimana jalan itu ditemukan, sepertinya Tuhan terus menyertai kemana saja saya pergi. Tiba-tiba teman saya dari kompleks saya di Kupang datang untuk mengunjungi kekasihnya di Adonara, tanpa perlu dicari, kekasihnya bekerja di bank yang tepat di sebelah jalan kantor saya, sungguh menakjubkan bagaimana Tuhan menyertai saya. Akhirnya saya mengajak dia untuk tidur di kantor melawan prosedur untuk membawa orang kekantor untuk menjaga diri saya tetap aman dari serangan malam yang mungkin akan dilakukan oleh orang-orang ini karena ponsel saya tidak henti-hentinya berdering dengan ancaman yang terus dilakukan.

Pagi harinya saya mengantar teman saya ini ke rumahnya karena ia juga orang asli Adonara, membuka mata melihat semua ancaman yang diberikan, saya tetap memberanikan diri mengantar teman saya karena sudah tanggung jawab saya membawa dia keluar dari kantor secepatnya agar tidak ada laporan baru dalam pelanggaran prosedur, membuka mata dengan ancaman yang dilihat di ponsel, saya mempersiapkan diri untuk mengantar teman saya ini dengan degup dada yang cukup kencang, namun ini saya lihat juga sebagai pelarian untuk mencegah mereka menemukan saya dengan cepat, menghubungi semua orang yang bisa saya hubungi untuk menumpang tinggal dengan bantuan sang kepala yang mempunyai relasi besar disini adalah usaha-usaha saya agar tetap aman, berpindah tempat untuk hanya menaruh kepala beristirahat menutup mata sebentar dari ancaman orang-orang tersebut terus saya lakukan.

Sampai pada kebimbangan sang kepala karena ia pun terus diteror untuk membawa saya menemui orang-orang tersebut menghadapkan saya pada keterpaksaan untuk mengikuti, yang sebelumnya saya memberanikan diri untuk menemui mereka di sebuah rumah orang yang mereka anggap orangtua disitu saat saya pulang mengantar teman saya dan menjelaskan bagaimana saya melaporkan mereka adalah keberanian terakhir  yang saya punya karena saya yakin tidak akan terjadi apa-apa dirumah orang yang mereka hormati. Sore pun tiba dari usaha dua hari mereka mencari saya, sampailah pada saat keterpaksaan itu tiba, sang kepala berusaha meyakinkan saya untuk bertemu kedua orang tersebut dan dua orang petugas yang sudah terdampak dan terdoktrin oleh mereka untuk tidak menaruh pembelaan dan empati terhadap saya. Kami pun pergi dengan mengandalkan keberanian dan menjanjikan orang-orang yang saya tinggal untuk mengikuti dari belakang jika terpaut lama waktu  kami bertemu disana dan tidak kembali.

Masuk ke pagar mess saya pun langsung dikejar dengan parang tumpul yang sudah dipersiapkan dan saya pun tersadar direncanakan dengan baik situasi tersebut saat saya melihat bahwa CCTV sudah dicabut dan mereka seperti membuat drama agar saya ketakutan, berlari adalah kemampuan terakhir saya melihat kondisi sudah dipersiapkan sedemikian rupa, berteriak mencari pertolongan adalah usaha yang saya lakukan saat diperhadapkan dengan situasi seperti itu, banyak orang menahan namun situasi tersebut seperti sudah dirancang agar ada sisi baik dan sisi buruk yang saya lihat untuk mencari peruntungan salah satu pihak, mereka membuat drama dan melepas benda tumpul tersebut dari tangan orang tersebut agar pembicaraan baik dapat dilakukan, namun akal sehat yang sudah hilang karena dipengaruhi minuman keras menambah keruh suasana, tapi benda tumpul tersebut sudah berhasil dilepaskan, melihat kondisi yang menguntungkan dan berpikir bahwa dia juga hanya manusia yang dipengaruhi minuman saya pun memberanikan diri untuk masuk menerima resiko yang ada di dalam daripada hidup dalam ancaman saat waktu saya di Adonara masih berkisar 3 minggu, maka saya harus maju menerima apa saja untuk menyelesaikan agar tidak ada lagi yang mengancam jika saya berjalan sendirian melakukan pekerjaan saya.

Tulisan lainnya : Awal Mula Penciptaan

Terlihat hanya menggertak, saya pun maju untuk balik menantang dan benar saja, tidak ada hal-hal besar yang ia lakukan selain mendoroang saya menantang keberanian saya, pengaruh minuman ternyata tidak terlalu berpengaruh jika ia masih memikirkan resiko untuk mengambil tindakan lebih duluan terhadap saya, ketika melihat pembicaraan tidak mendapatkan titik terang, orang-orang pun melerai dan memisahkan dia dari saya, percobaan untuk menyerang sudah tidak ada artinya, seperti anjing yang hanya mengonggong dia terus mengeluarkan umpatan dan makian, namun untuk saya masalah sudah selesai karena ia tidak berani berbicara pun bertindak lebih dari itu, yang saya takutkan hanya bagaimana 3 minggu depan saya harus pulang selamat dengan melewati rumah orang tersebut untuk sampai ke pelabuhan ferry.

Kemudian hari-hari berjalan seperti biasa, kejadian itu mengikat saya pada hubungan yang akhirnya dekat kepada beberapa orang yang telah dengan baik menyodorkan bantuan, setiap hari saya harus menitipkan motor di rumah orang lain agar tetap aman karena pagar mess yang dapat dibuka dengan mudah, terus menerima tumpangan tempat tinggal jika merasa tidak aman dan terus di beri makan minum yang layak dari orang-orang yang harusnya lebih mengutamakan isi perut keluarga mereka. Ancaman terus berdatangan karena orang itu terus berada di Adonara dengan menyimpan amarah dan dendam, sampai pada hari lebaran kami harus ke Lembata untuk menyelenggarakan acara pun saya dengan murung harus pergi karena semua orang yang mengikuti acara tersebut adalah teman mereka, pun atasan yang munafik terus memberi perintah-perintah tidak masuk akal karena merasa dinastinya akan goyah dengan kedatangan orang-orang baru yang berani bertindak. Berbagai cara ia lakukan untuk menusuk saya dengan ancaman. Namun, lagi-lagi karena sang kepala terus melindungi saya, walaupun kondisi disana menjadi sedikit canggung karena perkara tersebut baru selesai, semua orang terus menjaga jarak dengan saya,  tetap sang kepala terus merangkul dan memberi perhatian lebih kepada saya.

Setelah dari situ, kondisi pun lekas membaik, semua berjalan seperti semula sampai hari kepindahan saya datang, tetap ancaman berdatangan karena harus melewati rumah sang pelaku utama, barang-barang pemberian sudah dibungkus dengan rapih, tiket telah dipesan, namun ketidakrelaan dari teman-teman menahan kepergian, saya ditahan beberapa jam sebelum perjalanan, kapal yang harusnya jam 12 sudah berangkat pun tidak dihiraukan karena jam 10 saya masih mengumpulkan niat hati dan membulatkan tekad untuk menghiraukan ancaman ini, dibantu oleh sang kepala, barang-barang saya dikemas dengan baik oleh keluarga baru yang saya temui di Adonara, rencana diatur  dengan baik agar ancaman tersebut tidak menjadi kenyataan, rute menjadi lebih jauh untuk memutari daerah kekuasaan pelaku tersebut, namun ketidakrelaan orang-orang yang berusaha bersama saya mendapatkan kenyamanan di kantor yaitu sang kepala sangat sulit untuk melepas saya, begitu berharga perjuangan kami berdua, tangisan mengiringi kepergian karena kami berdua berusaha begitu keras, bahkan pada saat saya di kejar dia sampai pingsan dan digotong, hati ini pun tak sampai jika apa yang kita telah bangun harus di urus sendiri oleh dia yang notabene juga baru menjadi pemimpin. 

Namun, setiap pertemuan ada perpisahan, dia harus merangkai dan berkarya dengan kemampuan dia sendiri, apalagi tuntutan dia sangat besar untuk menghidupi keluarganya. Kami pun beranjak, bergegas meninggalkan Adonara karena kami harus menyebrangi selat untuk sampai ke Larantuka dengan kapal kayu yang tidak ada jadwal pasti, juga harus memutari rute untuk sampai ke pelabuhan ferry. Sampai ke Larantuka, ancaman tinggal ancaman, saya memutari jalan tiga Larantuka dengan selamat, namun saya tidak selamat saat kapal hampir beranjak dari pelabuhan, tangisan pecah mengiringi kepergian, usaha-usaha yang saya lakukan bersama sampai disaat itu terekam kembali dalam kepala, bagaimana saya dan sang kepala berusaha memperbaiki sistem namun sedikit tidak dihargai, apalagi untuk sang kepala, disitu pun saya jadi tahu bagaimana kerasnya dunia pekerjaan jika sistem telah digerogoti tikus-tikus nakal. Pecah tangis di dermaga, kami saling mengucapkan perpisahan untuk kehidupan selanjutnya yang entah bagaimana, namun doa-doa yang dipanjatkan untuk selalu sukses dalam kehidupan terus berterbangan terucap dari mulut masing-masing. Ucapan selamat tinggal dan lambaian tangan dilakukan tanpa henti sampai jejak tidak terlihat lagi.

Ini adalah salah satu sisi yang saya dapatkan dari Adonara, cerita tentang pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu ini, di sisi lain, Adonara dalam budaya dan masyarakat juga memberi kesan yang akan diceritakan dibagian selanjutnya.

Tetap disana dan menunggu! XOXO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Disqus Shortname

Comments system