Berkenalan dengan Adonara
Begitulah bagaimana saya sampai di Larantuka, sebelum pergi ke penempatan, dikenalkan dengan baik, disambut dengan hangat, walaupun ditutup dengan tradisi yang kurang baik dalam lingkup orang-orang kita, saya tetap merasa berada dalam keluarga, diperhatikan sebelum saya bertemu dengan kawan kerja yang akan bersama-sama pergi ke Adonara keesokan harinya. Tidur dengan teler karena dicekoki budaya, akhirnya teman kerja saya pun menyambut saya dengan senang, seperti kakak yang menyambut kepulangan adiknya, hilang semua gambaran orang-orang Flores berwatak keras. Kehangatan itu terus saya rasakan sampai saya di "serah terimakan" kepada teman kerja saya di malam hari agar bersama-sama melakukan perjalanan menuju Adonara yang adalah kecamatan bagian dari Kabupaten Flores Timur walaupun dalam bentukkannya ia adalah sebuah pulau dengan potensi besar tersendiri
Tertatih di Pulau Kecil Adonara
Pelan-pelan kemunafikan mulai terbongkar dan sifat-sifat baik mereka mulai menghilang, seperti menaruh bom waktu di sela-sela pintu karir mereka, terlihat mereka, para karyawan menyembunyikan sebuah masalah besar sampai tidak mau didampingi oleh saya untuk melihat kerja mereka, mereka bahkan membuat saya tak bisa menjalankan tujuan saya, yang adalah belajar dari para senior, mereka rela menukar waktu kerja mereka untuk menyembunyikan kesalahan mereka dan merayu saya tidak mengikuti mereka. Anak baru ini yang belum diberikan fasilitas yang memadai seperti user dan kendaraan sendiri untuk melakukan pekerjaan seperti saya ini, haruslah menerima bagaimana senior-senior ini memperlakukan saya, diiringi dengan keluhan hati sang kepala, dan bagaimana dia tidak dihargai di kantor sebagai kepala yang diperlakukan dengan kemunafikan setelah saya berada, dia sedikit bersyukur, bahwa akhirnya ada yang menghargai dia sebagai kepala, mendengar setiap perintahnya, melakukan dengan patuh, yang pastinya perintah itu diberi dengan pemikiran akan metode kerja dan tujuan yang akan dicapai.
Semua akhirnya terkuak, permainan monopoli antara para karyawan lama memberi ledakan besar untuk keselarasan dalam kantor, semua orang benar-benar merasakan ledakan tersebut karena mereka semua benar-benar terlibat dalam permainan yang dijalankan para karyawan senior, pembelaan terhadap diri dan teman, serta penganiayaan verbal terhadap sang kepala dan saya sebagai orang baru pun terangkat ke permukaan, padahal belum ada tindakan apa-apa yang kami lakukan. Merasa kondisi itu terus memperparah dan menakutkan untuk proses kerja. Kami, saya dan sang kepala mulai merencanakan dan mempersiapkan semua hal untuk mengeluarkan ledakan-ledakan yang terus terjadi, seperti menindak pelaku kriminal, kami berdua mengambil jalan pintas, meminta keterangan pada setiap korban dampak fraud yang dilakukan para senior. Semua berjalan sesuai rencana, sambil terus mengambil keterangan dari para korban, kami pun menanyakan kejujuran pada para senior untuk melihat profesionalitas mereka dalam bekerja dan mungkin ada sedikit kesalahan yang mereka lakukan tanpa sengaja karena mereka pun punya kebutuhan lain seperti yang satunya baru saja menikah dan akan mempunyai anak dan satu lagi ditinggal istri dan harus membesarkan anaknya sendiri. Bukannya belajar dan merasa bersalah atas apa yang telah melakukan, mengambil hak banyak orang yang didapat dari hasil jeri payah, mereka malah melaporkan tindakan-tindakan kecil saya yang merugikan saya sebagai pegawai kontrak dengan pinalti yang besar.
Tulisan sebelumnya : Tentang Blog
Masalah baru pun menguap cepat seperti air mendidih, saya yang dibawa emosi langsung menembak laporan menembus pada tingkat pusat tanpa pikir panjang, dicela begitu hebat karena melanggar struktur, saya akhirnya ditempatkan pada posisi tanpa penjagaan, diserang berbagai arah, apalagi dengan para senior yang sejatinya orang asli Lamaholot, memang mereka orang Larantuka, tapi mereka sudah seperti tuan tanah di Adonara. Takut dan cemas pasti ada, saya yang seharusnya dipihak yang benar malah merasa bersalah karena memotong nasib orang dalam menunjang kehidupannya, ditambah lagi seiring masalah yang berjalan saya dipaksa mengikuti mereka berdua, melihat cara kerja mereka yang sudah tertangkap basah. Keringat dingin menyertai setiap perjalanan, bahwa bisa saja dia melakukan hal-hal diluar kendali dengan gelap mata. Kemunafikan terus terjadi karena mereka selalu dianggap baik oleh kelompok-kelompok yang mereka pegang, pun mereka sudah tahu bahwa akhirnya karir mereka harus hangus karena perbuatan mereka sendiri dan perjumpaan-perjumpaan yang disertai oleh saya akhirnya dipenuhi dengan ucapan selamat tinggal, perpisahan pun harus terjadi karena apa yang mereka buat sendiri, ternyata di beberapa kelompok mereka dikenal sangat membantu orang keluar dari kesulitan mereka, tangisan dan air mata menyertai, iba dan empati saya pun tak tertahan, bahkan saya tidak tahu apa yang menjadi motivasi mereka terus melakukan hal-hal keji mengambil hak orang yang bahkan di sisi yang lain mereka selalu diperhatikan oleh orang-orang yang merasa terbantu dengan kehadiran mereka. Rasa bersalah ditimbulkan dalam kondisi-kondisi ini, seperti merenggut hidup orang dari apa yang harusnya mereka dapatkan, tetapi memang perbuatan-perbuatan ini seharusnya diperbaiki bukan terus dilanjutkan.
Saya yang walaupun sudah dibekali dengan metode dan cara kerja yang baik, tanpa pengalaman di bidang ini pun juga harus benar-benar memikirkan bagaimana menangani dan membantu memperbaiki lubang besar yang para senior ini gali. Sebulan bukan waktu yang cukup untuk mempelajari semua teori yang telah dipelajari dan menerapkannya dilapangan dengan kondisi yang tidak ideal seperti ini, menjelaskan sebaik mungkin tanpa menyinggung berbagai pihak adalah salah satu yang paling sulit, karena tuntutan dari para klien terus menerpa petugas baru seperti topan menghantam dataran rendah. Begitu keras badai yang mereka tinggalkan untuk para rekrutan baru ini. Apalagi bayang-bayang mereka yang masih ada dikantor,ya, mereka belum mau melepaskan status mereka walaupun sudah nyata didepak oleh perusahaan, mungkin karena cara sang kepala membungkus masalah ini agar mereka tidak terlihat didepak, tetapi seperti bensin tersulut api begitulah kabar dari atasan menjadi dua arah dan dinasti yang sudah dibuat memudahkan mereka menerima kabar bahwa mereka telah dikeluarkan oleh perusahaan.
Penyertaan yang Sempurna
Pagi harinya saya mengantar teman saya ini ke rumahnya karena ia juga orang asli Adonara, membuka mata melihat semua ancaman yang diberikan, saya tetap memberanikan diri mengantar teman saya karena sudah tanggung jawab saya membawa dia keluar dari kantor secepatnya agar tidak ada laporan baru dalam pelanggaran prosedur, membuka mata dengan ancaman yang dilihat di ponsel, saya mempersiapkan diri untuk mengantar teman saya ini dengan degup dada yang cukup kencang, namun ini saya lihat juga sebagai pelarian untuk mencegah mereka menemukan saya dengan cepat, menghubungi semua orang yang bisa saya hubungi untuk menumpang tinggal dengan bantuan sang kepala yang mempunyai relasi besar disini adalah usaha-usaha saya agar tetap aman, berpindah tempat untuk hanya menaruh kepala beristirahat menutup mata sebentar dari ancaman orang-orang tersebut terus saya lakukan.
Masuk ke pagar mess saya pun langsung dikejar dengan parang tumpul yang sudah dipersiapkan dan saya pun tersadar direncanakan dengan baik situasi tersebut saat saya melihat bahwa CCTV sudah dicabut dan mereka seperti membuat drama agar saya ketakutan, berlari adalah kemampuan terakhir saya melihat kondisi sudah dipersiapkan sedemikian rupa, berteriak mencari pertolongan adalah usaha yang saya lakukan saat diperhadapkan dengan situasi seperti itu, banyak orang menahan namun situasi tersebut seperti sudah dirancang agar ada sisi baik dan sisi buruk yang saya lihat untuk mencari peruntungan salah satu pihak, mereka membuat drama dan melepas benda tumpul tersebut dari tangan orang tersebut agar pembicaraan baik dapat dilakukan, namun akal sehat yang sudah hilang karena dipengaruhi minuman keras menambah keruh suasana, tapi benda tumpul tersebut sudah berhasil dilepaskan, melihat kondisi yang menguntungkan dan berpikir bahwa dia juga hanya manusia yang dipengaruhi minuman saya pun memberanikan diri untuk masuk menerima resiko yang ada di dalam daripada hidup dalam ancaman saat waktu saya di Adonara masih berkisar 3 minggu, maka saya harus maju menerima apa saja untuk menyelesaikan agar tidak ada lagi yang mengancam jika saya berjalan sendirian melakukan pekerjaan saya.
Tulisan lainnya : Awal Mula Penciptaan
Terlihat hanya menggertak, saya pun maju untuk balik menantang dan benar saja, tidak ada hal-hal besar yang ia lakukan selain mendoroang saya menantang keberanian saya, pengaruh minuman ternyata tidak terlalu berpengaruh jika ia masih memikirkan resiko untuk mengambil tindakan lebih duluan terhadap saya, ketika melihat pembicaraan tidak mendapatkan titik terang, orang-orang pun melerai dan memisahkan dia dari saya, percobaan untuk menyerang sudah tidak ada artinya, seperti anjing yang hanya mengonggong dia terus mengeluarkan umpatan dan makian, namun untuk saya masalah sudah selesai karena ia tidak berani berbicara pun bertindak lebih dari itu, yang saya takutkan hanya bagaimana 3 minggu depan saya harus pulang selamat dengan melewati rumah orang tersebut untuk sampai ke pelabuhan ferry.
Setelah dari situ, kondisi pun lekas membaik, semua berjalan seperti semula sampai hari kepindahan saya datang, tetap ancaman berdatangan karena harus melewati rumah sang pelaku utama, barang-barang pemberian sudah dibungkus dengan rapih, tiket telah dipesan, namun ketidakrelaan dari teman-teman menahan kepergian, saya ditahan beberapa jam sebelum perjalanan, kapal yang harusnya jam 12 sudah berangkat pun tidak dihiraukan karena jam 10 saya masih mengumpulkan niat hati dan membulatkan tekad untuk menghiraukan ancaman ini, dibantu oleh sang kepala, barang-barang saya dikemas dengan baik oleh keluarga baru yang saya temui di Adonara, rencana diatur dengan baik agar ancaman tersebut tidak menjadi kenyataan, rute menjadi lebih jauh untuk memutari daerah kekuasaan pelaku tersebut, namun ketidakrelaan orang-orang yang berusaha bersama saya mendapatkan kenyamanan di kantor yaitu sang kepala sangat sulit untuk melepas saya, begitu berharga perjuangan kami berdua, tangisan mengiringi kepergian karena kami berdua berusaha begitu keras, bahkan pada saat saya di kejar dia sampai pingsan dan digotong, hati ini pun tak sampai jika apa yang kita telah bangun harus di urus sendiri oleh dia yang notabene juga baru menjadi pemimpin.
Ini adalah salah satu sisi yang saya dapatkan dari Adonara, cerita tentang pekerjaan yang menguras tenaga dan waktu ini, di sisi lain, Adonara dalam budaya dan masyarakat juga memberi kesan yang akan diceritakan dibagian selanjutnya.
Tetap disana dan menunggu! XOXO




.jpg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar