Pertama-tama, ini adalah tulisan yang benar-benar dimaksudkan untuk blog ini tanpa menitik beratkan pada sebuah isu yang sedang hangat. Tapi, akhirnya muncul satu pikiran bahwa bahasa apa yang akan digunakan dalam tulisan-tulisan yang akan diberikan pada pembaca untuk dikonsumsi. Penggunaan Bahasa Indonesia sangat diperlukan untuk memperkuat literasi dan tata bahasa, namun penggambaran sebuah situasi dan kondisi faktual lebih mudah diceritakan dengan Bahasa Ibu dan sampai sekarang saya pun belum mendapati tanggapan-tanggapan yang mengarah pada interaksi baik dari pembaca. Beberapa pertimbangan terus saya lakukan untuk memulai menceritakan kehidupan saya, bagaimana awal mulanya saya menjadi manusia yang seperti ini agar dapat diterima semua kalangan pembaca tetapi mensenandungkan bahasa ibu adalah salah satu cara untuk memperkenalkan budaya dan mempertahankan sebuah karya. Sampailah pertimbangan tersebut pada halaman cerita pertama ini dengan Bahasa Indonesia yang baik dan jika seterusnya ada pembaca yang ingin mencoba mengenal dan ingin lebih tahu tentang Bahasa Melayu-Kupang atau dua bahasa daerah dari orangtua saya yakni Rote dan Timor (Dawan) maka, saya akan menggunakan bahasa tersebut menuangkannya dalam tulisan
Halo, Perkenalan yang dilakukan mungkin sudah merujuk pada ingatan kalian untuk mengetahui nama saya, dilahirkan di Kupang pada masa penantian natal (Advent) di tahun terakhir abad 20. Ayah dan ibu pastinya sudah merencanakan dengan baik kelahiran saya, dilihat dari perbedaan umur saya dan kakak sulung saya yang berjarak 5 tahun. Perencanaan dan penantian akan kelahiran baru ini pun ditunjukkan dengan kepindahan kami pada rumah yang sekarang ditinggali dimana sebelumnya mereka (Ibu, Ayah dan Kakak serta dua Adik dari Ayah) hidup berpindah-pindah pada waktu itu karena kondisi ekonomi setelah pernikahan yang kurang mencukupi untuk membangun rumah sendiri. Setelah pernikahan berlangsung dengan adat yang bertubi-tubi, ibu terpaksa dibawa tinggal dirumah ipar tertuanya yang tidak ingin dikunjungi oleh Ayahnya karena rumah tersebut bukan punya mereka sendiri, tata krama dalam bertamu sangat dijunjung oleh orangtuanya dan mungkin untuk menambah semangat serta motivasi dalam mengejar hunian sendiri.
Dalam keadaan seadanya tetap ayah tidak mau anaknya merasakan kondisi tersebut, anak pertamanya tidak pernah merasa kesusahan yang seharusnya dirasakan disaat-saat tersebut, Kakak terus dimanja terlebih lagi dia tinggal dengan dua orang tantenya yang berarti ia tidak akan pernah menyentuh sebuah pekerjaan yang berarti, semuanya telah disiapkan hanya untuk dia, si sulung yang begitu dikasihi, tidak pernah dilihat bahwa tangan dia dikotori oleh tanah ataupun permainan pada masanya, ditambah lagi, dia adalah cucu satu-satunya dari orangtua ibu yang tinggal di Ibu Kota, karena yang lainnya mengikuti orangtua mereka ditugaskan keluar. Setiap kepergiannya kesekolah akan selalu diberikan jajan yang besar nominalnya dan kemudian akan dipotong ibu sebagai pajak manajemen, haha.
Kesukaran tersebut terus berkurang karena ibu yang cukup tegas dengan penggunaan uang untuk kebutuhan rumah tangga yang dibuktikan dengan ingatan kakak saat pernah dipukul habis-habisan hanya karena menghabiskan seluruh jajannya, lima ribu rupiah, dalam satu hari. Itu adalah titik dimana ia pertama merasakan kerasnya rotan didalam hidupnya setelah bertahun-tahun dimanja. Pengaturan ekonomi yang bagus, diajarkan dari rumah ibu, karena ia anak perempuan pertama yang sebenarnya juga dimanja tetapi sebagaimana anak perempuan pertama, ia tetap harus mengurus ayahnya dimasa muda dan adik-adiknya yang berjumlah lima orang, sangat melelahkan tetapi menghasilkan keterampilan yang ibu bawa sampai sekarang untuk mengatur rumah setegas mungkin.
Untungnya, ayah dari ibu adalah seorang yang berkarir bagus, memulai karirnya dari buruh hingga menjadi juru timbang BULOG yang menangani berton-ton beras tanpa memudarkan kepercayaan pemerintah hingga pada masa pensiunnya diminta untuk berbakti lagi selama 10 tahun karena kinerjanya yang sangat baik. Mendapat penghasilan yang bagus, seperti yang saya katakan, ia mempunyai transportasi yang memadai yaitu mobil sejenis mikrolet yang digunakan untuk melihat ibu dari kejauhan sepulang dari pasar untuk membeli ikan pada saat setelah ibu menikah dan tinggal dirumah iparnya. Mobil ini yang dipakai untuk mengunjungi dan menghantar ibu pada pembangunan hunian barunya yang harus mengitari kali liliba agar tidak harus menyasari tebing.
Tanah yang sudah dekat dengan jalan besar dan seharusnya sudah dibangun oleh ayah dengan keluarganya ternyata sudah dijual kembali oleh sang empunya tanah tersebut karena dulu masalah tanah sangat krusial (mungkin sampai sekarang) ditambah kebiasaan para pemilik tanah yang mabuk-mabukan, menjual tanah diatas penjualan lainnya sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mencari untung lebih. Mediasi kemudian dilakukan oleh pihak RT yang menjadi tetuah ditempat ini, didapatkanlah tanah yang kami dirikan rumah sekarang ini yang sejatinya adalah kebun tempat sang pemilik tanah menanam hasil tahunannya, dengan ketelatenan dan kesetiaan orang Timor, orang dari daerah ayah yang sudah banyak dibantu, mereka membangun rumah yang sedia kalanya sangat sederhana untuk ditempati sebagai tempat yang layak.Masalah baru pun terus berdatangan, kepercayaan orang-orang dulu terhadap roh, jimat dan perisai diri dengan menggadaikan nyawa mereka untuk mendapat ilmu lebih serta kepercayaan mereka pada nenek moyang yang bermacam-macam membuat suasana tempat baru ini sangatlah menakutkan, suara arwah yang bergentayangan sangat menggelegar menghantui tiap tidur keluarga kami, Kelahiran saya pun sempat terganggu hingga harus melakukan pergantian ulang nama karena sakit yang tak kunjung pulih dan selalu merengek tanpa henti, nama yang sejatinya diberikan untuk mengingat teman-teman ayah harus diganti untuk mengingat nenek moyang mereka (Raja Amanuban) beban tersebut ternyata sudah dibawa dari sang sulung yang diteruskan sampai kepada adik perempuan bungsu kami. Kelahiran mencekam tersebut membuat ibu harus minggat beberapa saat dan menginap dirumah orangtuanya, tetapi memang ibu yang juga adalah anak manja selalu melakukan proses persiapan bersalin dirumah orangtuanya untuk setidaknya lebih diperhatikan oleh ibunya sendiri.
Sampai disini tetap saya harus dirawat dan diperhatikan dengan ekstra oleh orang dewasa yang akhirnya memaksa ayah untuk memanggil salah satu ponakan dari tempat asalnya untuk menjaga laki-laki bungsunya ini. Ketelatenan sang ponakan tidak membawa hasil yang baik, saya, entah terus diikuti nenek moyang atau kesalahan sang ponakan, saya jatuh lumpuh diumur 2 tahun yang membuat saya harus berjalan dengan tangan tanpa tahu penyebabnya karena sangat tiba-tiba. Pergumulan akan tempat baru ini pun terus dilakukan, tanda salib diukir ayah disetiap sudut rumah, apapun cara yang disugesti oleh orang pasti akan dilakukan demi kesembuhan si bungsu lelakinya, sampai-sampai harus menjaga rumahnya dari luar dengan lutut yang ditekuk pada tanah kering dan kepala yang menadah ke langit seraya meminta untuk kesembuhan saya.
Kesembuhan tidak kunjung datang, sampai suatu ketika pagi-pagi benar saat ayah hendak pergi kesekolah tempatnya mengajar, dengan sebuah kalimat permintaan kepada yang Maha Esa dengan satu tarikan napas ia berkata,
"Tuhan, biarlah orang yang saya temui pertama kali pada hari ini menjadi juruselamat yang menyembuhkan anak saya dari kelumpukan ini",
Pergilah ia kesekolah, membawa harapan bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaanya yang entah sudah berapa kali ia kumandangkan, sesampainya kesekolah ia tidak berhenti berharap, namun keajaiban yang ia tunggu tak kunjung datang. Dari kejauhan nampak sahabat karibnya, teman yang ia sempat gunakan rumahnya sebagai tempat tinggal beberapa saat setelah kepindahannya dari rumah kakaknya ke sekolah, tak ada sesuatu yang diharapnya lebih dari teman karibnya yang pasti akan datang untuk menceritakan hari-hari dia sebelumnya. Bukan temannya yang ia maksud dalam doa tersebut sebenarnya - orang yang ingin ia temui sebagai juruselamat adalah orang baru yang ia tidak kenal datang dan langsung menawarkan diri untuk menyembukan anaknya, lebih kepada orang yang memang ditunjuk Tuhan untuk menemui dia - Tetapi dari kejauhan tanpa menata posisi duduk dengan baik sahabat karibnya langsung mengeluarkan celetukkan,
Katanya, "Anabua su sembuh ko? dan langsung dibalas,
"Belom ni, beta ke su mau mati sa, tiap hari liat dia merayap deng tangan ko bermaen deng dia pung kawan ni, beta liat ke beta pung hidup sonde ada guna" kata ayah,
"Beta ada dapa dengar orang sumba satu tukang urut tinggal di Nasipanaf, bilang dia bisa kasi sembuh yang begitu dong, coba lu pi sa dolo" sambung temannya,
Tanpa berpikir panjang ayah membalas," Ho na lu dengan b pi ko kastunjuk rumah abis ketong kembali ko mengajar, nanti sore baru b pi ame dia ko pi rumah liat anabua"
Bergegas sampai dirumah ayah tetap harus meminta ijin dari sang isteri agar pertimbangannya lebih matang karena ayah tidak bisa menahan dirinya sendiri jika ini tentang anaknya, semua yang baik pasti akan dicoba. Sesampai dirumah, mereka, ayah dan ibu masuk kedalam kamar untuk berdoa meminta Tuhan untuk tidak salah mengambil langkah, dan memang pada akhirnya Opa tersebut tetap dijemput dengan pertimbangan yang tergesa-gesa. Sesampainya kembali dari penjemputan Opa, semua orang didalam rumah tidak siap karena tradisi dan praktek urut mengurut yang sangat sakit, rasanya seperti lahir baru, sakit dalam proses tapi hasil cukup bahkan sangat memuaskan.
Semua orang didalam rumah yang berisikan 5 jiwa ini mencari-cari celah untuk tidak melihat proses praktik mengurut ini, Sampai-sampai Opa tegas mengatakan,
"Ini ni tulang ekor, beta bisa urut ma satu orang harus datang pegang ini anak dolo!"
melihat ibu yang langsung sengaja mandi, ayah yang sengaja merapihkan bahan ajar dan ponakan serta sulung yang menjauh dari rumah agar tidak mendengar teriakan saat proses berlangsung, ayah pun mengalah dan merangkul saya sekuat tenaga untuk mengurangi rasa sakit yang akan saya rasa, praktik pun berjalan, sakit, memang sangat sakit, namun dari teriakan akan kesakitan tersebut dari telinga kami orang yang berada didalam rumah terdengar bunyi lain,
"Plekk"
Seketika kaki saya mengikuti badan saya yang menggelepar memberontak praktik yang menyakitkan tersebut,
"Sudah ni" kata Opa.
Tidak percaya dengan itu saya terus memeluk ayah saya dan terus menangis sejadi-jadinya dan memberontak. Melihat kaki saya yang sudah mengikuti gerakan badan saya, ayah saya membujuk saya untuk coba berdiri sendiri, dengan perlahan saya berdiri tertatih tatih, pelan tapi pasti, menyadari bahwa kaki saya sudah bisa digerakan, saya melompat kegirangan yang sontak mengejutkan ayah dan Opa tersebut, namun memang sukacita tidak dapat dibendung,
"Mama beta su bisa jalan" Seraya terus melompat,
Saya menghampiri ibunda yang sekiranya sudah se jam lebih didalam kamar mandi untuk mengalihkan diri dari praktik tersebut. Ibunda langsung membuka pintu kamar mandi dan sambil terus berlompat kami berpelukan.
Ya, seperti yang sudah saya katakan, seperti terlahir baru.
Semua orang didalam rumah kembali dari pengalihan mereka dan mengikuti saya dan ibunda yang saling berpelukan dan menyeka air mata masing-masing seraya terus memuji dan memuliakan Tuhan dengan doa-doa yang terus keluar dari mulut masing-masing.
Proses ini melahirkan yang saya sekarang ini, anak biasa-biasa saja yang ingin hidup biasa ini pun bisa dibagikan bukan untuk memamerkan dan membuat orang-orang masuk lebih dalam pada kehidupan saya, tetapi memberikan diri untuk terus berbagi dan berdampak
Tetap tunggu cerita berikutnya
Ciao!






I can't wait for next story 😊
BalasHapus