Ya, siapa akan mengira menutup tahun dengan luar biasa - tidak mengatakan bahwa menyiapkan diri menyambut kedatangan sang Raja tidak luar biasa - dengan kesempatan sebegitu besarnya, tak pernah terpikirkan oleh diri saya, seorang dengan mulut kaku dan sikap dingin ini harus mencairkan suasana pada panggung yang saya pun tidak pernah bayangkan. Sebuah kemustahilan untuk melangkahkan kaki bahkan untuk melewati garis batas itu - garis batas yang biasa orang sebut zona nyaman - tanpa motivasi yang jelas langkah ini sekali lagi adalah sebuah lelucon yang dibualkan orang-orang yang sering lari dari tanggung jawab. Apalagi saya, seorang yang terus lari dari tawaran peluang seberapa besarpun tawaran itu, menurut saya, mencoba sesuatu yang baru adalah kecerobohan besar yang tidak seharusnya dilakukan.
The "Trying" Word
Ternyata mencoba adalah hal yang paling melelahkan yang bisa muncul pada pikiran anda, entah apa motivasi anda mencoba, tetapi itu harus datang benar-benar dengan komitmen, mungkin saat kecil anda rasa bahwa mencoba akan membuat anda bahagia, seperti mencoba mainan baru, mencoba melawan sesuatu, mencoba merasakan sesuatu, tetapi saat anda beranjak dewasa, mencoba berarti anda harus mempersiapkan segala sesuatu seketika anda memikirkan kata mencoba tersebut, hal-hal baru yang dicoba saat anda sudah lebih dewasa datang dengan resiko yang lebih besar, maka persiapan yang matang adalah hal yang memang harus anda lakukan. Semua itu belum terpikirkan oleh anak kecil yang terperangkap dalam tubuh ini, kiranya mencoba hal baru akan se-asyik yang dipikirkan, maka motivasi awal saya mencoba hal ini adalah karena bersama teman yang lain, teman yang dapat mencairkan suasana hati sebelum naik ke atas panggung. Tidak ada dalam pikiran saya bahwa memoderasi pembicaraan adalah sebuah hal yang cukup menantang, mengatur pembicaraan bahkan menyimpulkan perkataan terasa begitu mudah dalam pikiran tanpa tahu bahwa pesan yang kita simpulkan harus terpahat rapih dalam pikiran penonton. Apapun artinya, menjadikan kata mencoba sebagai tameng komedi sepertinya harus dievaluasi ulang.
A Little Time Pressure
Semua yang sederhana yang telah dipikirkan oleh otak buyar begitu saja melihat waktu yang
semakin dekat tanpa aba-aba dari panitia, sepertinya semua dilakukan dengan mepet, tetapi bagaimana nasib sang moderator tamu ini, ditambah beberapa teman yang akhirnya harus mengatakan tidak karena jadwal masing-masing memaksa mereka untuk tidak menemani saya dalam usaha saya mencoba hal baru ini, belum lagi sifat saya yang cepat puas dengan keadaan. Semua bercampur menjadi satu, menciptakan ambigu di masa-masa yang seharusnya tegang, saya malah lenggang tanpa ada beban padahal tahu bahwa kebiasaan ini akan merusak diri sendiri di hari pertunjukkan. Tanpa amunisi, saya melakukan riset sendiri, berbicara dengan kaca, berkelahi dengan kata tanpa tahu suasana dan tak ada gambaran panggung serta ombak yang akan di terjal. Hanya nama narasumber yang didapatkan, bahkan perubahan tanggal pertunjukkan pun didapat dihari sebelum tanggal yang ditentukan dari awal, sungguh hal yang cukup membingungkan bagi seseorang yang baru ingin mencoba, dan pada akhirnya rasa cepat puas mengambil alih semuanya, persiapan pun begitu-begitu saja, kata-kata pun itu-itu saja, semua terlihat gampang karena hari yang semakin dipanjangkan.
Ambiguitas yang didapatkan dari hari kata "mencoba" itu keluar akhirnya mendapatkan jawaban di hari pertunjukan itu diadakan, pukulan di dada, gemetar ditangan dan kekakuan pada kedua belah bibir ini dibawa dari malam sebelum hari pertunjukkan, kata-kata yang tidak dipersiapkan dengan baik terus direvisi dikepala sepanjang malam hingga terbawa mimpi, rasa tersebut menjalar keseluruh bagian tubuh yang mengharuskan saya tidur meringkung agar menahan gejolak setiap indra dalam tubuh saat ingin bereaksi terhadap apa yang akan terjadi besok. Sedikit energi negatif tersisip disitu, seperti biasa, selalu menyalahkan diri tetapi tidak pernah ada tekad untuk memperbaiki sendiri. Pagi pun tiba, seperti menolak kenyataan saya menyiapkan diri layaknya biasa, berlama-lama karena memang tidak ingin menghadapi kenyataan dengan terus menyadari bahwa pukulan dalam dada semakin terasa. Persiapan diri untuk pergi ketempat pertunjukan pun ditutup dengan doa yang memakan waktu cukup lama karena lancarnya pengulangan dilakukan didalam doa untuk satu jam yang akan saya jalani diatas panggung bersama narasumber.
The Moment
Padahal, disinilah jebakannya, momen itu pun datang, karena semuanya dengan kaku sudah dituliskan di kartu tersebut, saya benar-benar tidak bisa berimprovisasi. Saya malah membuat momen dalam kepala saya tanpa melihat kearah penonton, begitu takut dengan sorot mata semua orang saya benar-benar menghilangkan pandangan pada pembicara sekali pun, seperti tidak ingin dilihat sama sekali, mengatakan segala hal yang keluar dengan luwes tanpa tahu tata bahasa yang baik, lidah Kupang tulen ini terus melontarkan kata-kata tanpa susunan kalimat. Mengutarakan pertanyaan sepertinya hal yang sangat membuat lidah keram apalagi menyimpulkan pernyataan sang pembicara sepertinya harus didikte perhuruf. Seperti titik buta dibelakang kepala berpindah didepan mata, tidak ada yang bisa saya lihat, tingkah saya pun tidak menunjukkan adanya tata krama ditambah lagi pikiran harus menyiapkan kata selanjutnya untuk simpulan atau pertanyaan lanjut untuk paparan yang diberikan, belum lagi sorot mata penonton tanpa ekspresi seperti menghantui bersama waktu yang terus berjalan.
Menghiraukan pembicara mungkin hal terbesar yang saya benar-benar rasakan diatas panggung karena semua faktor yang harus diatur sang moderator, bahkan cara duduk pun terlupakan. Bagaimana pun lidah Kupang ini tidak bisa dimaafkan, toleransi-toleransi pada bahasa yang selalu dilakukan akan terus mencelakai diri sendiri diatas panggung terhormat seperti ini, apalagi kita diusung sebagai bagian dari panitia. Momen terus berjalan hingga saya bahkan tidak bisa memilih penanya dengan benar dan bagaimana hadiah akan diberikan. MC pun kebingungan harus masuk darimana mendengar kata-kata yang terus berputar pada mulut kecil ini. Merasakan napas terdalam yang saya pernah ambil sesaat ketika MC mengeluarkan suaranya setelah saya berbicara bahkan jika ada orang disamping saya dia akan mendiagnosa penyakit paru-paru saya, sebegitu hebatnya lega saya, tanpa keringat jatuh saya menyelesaikan perkelahian dengan diri sendiri ini.
After the Game
Menapakkan kaki pada anak tangga sebenarnya adalah pencapaian sebenarnya, merapihkan langkah dengan mata melihat kebawah seraya memberikan kembali microphone kepada MC seperti telah melepaskan beban berat dipundak. Entah darimana, sosok perempuan datang memberi tangannya dihadapan dada saya seperti menyambut saya menapakki anak tangga merupakan momen yang tidak disangka-sangka - tindakan yang menyentuh batin saya yang benar-benar kosong pada saat itu - dari performa saya dalam pertunjukkan yang terasa sangat menurunkan pamor panitia, pengenalan akan dirinya sebagai ketua panitia membuat saya mengucapkan permintaan maaf berkali-kali padahal sepertinya ia sudah supel dalam caranya menenangkan saya .Memuji penampilan saya sebenarnya bukan hal yang saya inginkan, kritik pedas seharusnya menjadi apa yang keluar dari perkataannya, sanjungannya pada penampilan saya membuat saya berpikir apakah ini kemunafikan atau hanya ingin melanjutkan acara dengan lancar, benak saya terus bertanya penilaian sebenarnya terhadap penampilan saya namun sanjungan para panitia sedikit merubah suasana hati saya dalam ruangan tersebut tetapi tidak dengan rasa bersalah terhadap pembicara yang bersama saya diatas panggung tadi.
Walaupun semua menerima dengan sanjungan, tetap saya menyimpan rasa bersalah terhadap sang pemateri, tanpa tahu isi hatinya saya menitipkan kata untuk mengabadikan momen dan kami melanjutkan acara dengan meriah seperti yang telah direncanakan panitia pun dengan sedikit menghilangkan rasa susah hati akan penampilan saya yang tidak dinilai dengan benar karena saya hanya seorang moderator undangan. Saya benar-benar merasa sebagian dari mereka terus memalingkan perhatian mereka seperti menolak keberadaan saya, rasa itu pun terus menghantui sampai mengetuk pintu rumah dan disambut ibunda dengan serangan pertanyaan menanyakan pertunjukkan tersebut, saya menumpahkan segala risau hati yang mengganjal dihadapannya dengan detail yang mendalam untuk meredakan semua kegelisahan tetapi tetap, kegelisahan ini mengikuti saya dua hari lamanya.
Last Pie
Entah maksud Tuhan atau pesan yang mengetahui hidup saya, saya tersendat pada sebuah video speech yang mengatakan,
Pressure is previlege, that's what makes you and mistakes are not failures. Do not ever perceive a mistake as a failure, perceive mistake as feedback. Everything is feedback. Don't take things personally and never lose sight of your dreams and don't let others define you. You define yourself.
Tulisan ini hanya menggambarkan bagaimana pujian dan kebanggaan harus ditempa sedemikian rupa agar menghasilkan gambaran diri yang sesuai terhadap ekspetasi dan batas-batas diri yang memang harus dilampaui pada masa-masa sekarang, karena mimpi bukan dibangun dalam semalam, itu harus dibangun dari langkah demi langkah dengan peluang dan kesempatan serta kesiapan diri yang matang
Lukas 16:10,
"Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar"
To the Next Opportunity!
Leave your Comment Bellow!








proud of you👏
BalasHapusSo do i
Hapus