Hingar bingar kota kecil yang didominasi umat kristiani menjelang hari natal benar-benar terasa, bagaimana semua orang menyiapkan hari raya ini, jalanan yang mulai macet, pertokoan yang padat merayap dan umat non-kristen pun dengan hangat menyiapkan hadiah untuk teman-teman kristennya. Sepanjang kota pun dihiasi pernak-pernik dan pohon-pohon natal yang telah dihiasi, menunjukkan bagaimana kota yang saya tinggali ini sangat merayakan hari natal. Musik bertemakan natal pun bergema menjelajah kota. Tidak jauh berbeda, keluarga kecil saya pun terus mengulangi tradisi tahun demi tahun, membersihkan setiap sudut rumah, memasang ornamen natal di sisi rumah dan tidak lupa membuat kukis dan kue basah khas natal mempersiapkan semuanya untuk kunjungan yang akan dilakukan keluarga ketika natal tiba. Menambah personil dalam rumah adalah sebuah keharusan karena pekerjaan yang cukup banyak dan melelahkan, kami memanggil saudara perempuan kami untuk membantu merapihkan segala hal. Begitu menakjubkan nilai yang terus ditumbuhkan dalam tradisi yang terus kita lakukan. Tibalah pada malam natal yang menjadi momen besar bagi setiap umat, datang dengan persiapan matang, baju yang telah dipersiapkan jauh hari bersama keluarga, terkadang anda bisa menandakan setiap keluarga dari warna pakaian yang mereka gunakan, pun harus datang lebih awal mengamankan kursi didalam gedung kebaktian agar dapat duduk dengan tenang dan bisa mengikuti peribadahan dengan khusyuk karena sebagaimana kita tahu bahwa perayaan natal adalah salah satu perayaan yang mengundang begitu banyak umat dan keluarga untuk beribadah bersama yang akan menyebabkan penumpukan umat dan kesesakan yang luar biasa di sekitar gedung gereja. Ya, segala usaha dan pengorbanan terlihat begitu nyata dalam mempersiapkan hari kedatangan Sang Raja yang menjadi tradisi beribu-ribu tahun lalu, datang dengan kesederhanaan dan kerendahan sebenarnya kita harus mengevaluasi lagi perayaan yang kita terus lakukan tahun demi tahun untuk menyambut hari kelahiranNya.
Baca Juga : Arti dan Maksud Perayaan Advent
Seperti tidak diizinkan untuk mengikuti kebaktian tersebut, kami sekeluarga diberi keadaan yang mengharuskan kami untuk sedikit terlambat pergi mengikuti kebaktian walaupun sudah mempersiapkan diri lebih awal, saudara perempuan yang menjadi personil baru tadi mengalami gangguan dalam pernapasan yang pada akhirnya mengharuskan saya untuk mengalah untuk menahan diri tidak mengikuti kebaktian malam natal karena kami pun sudah betul-betul terlambat dan saya sudah tahu betul bahwa jika sudah duduk diluar, kita benar-benar tidak bisa mengikuti dengan baik ibadah tersebut, pergi ke gereja hanyalah bentuk absen tahunan untuk melengkapkan formasi keluarga memasuki gerbang gereja dan mungkin menunggu sampai akhir ibadah adalah cara untuk mengabadikan momen bersama keluarga dan membagikannya di media sosial tanpa memaknai kebaktian yang mereka hadiri. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk bisa berjaga-jaga dirumah melihat kakak beserta kedua anaknya yang sedikit rewel, disitu ada sedikit keegoisan timbul yang akhirnya disadari bahwa natal sebenarnya bukan tentang bagaimana mengikuti kebaktian yang anda bisa dapatkan 52 kali bahkan lebih dalam setahun tetapi bagaimana kelahiran bayi Yesus memberi nilai yang berbeda seiring dengan pertumbuhan dari merayakan dari persiapan baju natal dimasa kecil sampai kepada merayakan dengan persiapan hati menerima kabar baik bahwa Sang Juruselamat turun ke dunia.
Kabar baik yang Allah genapi ini berangsur tergerus oleh perkembangan zaman, setiap repetisi yang dilakukan pada momen natal ini seakan-akan dilakukan merujuk pada kebahagiaan pribadi masing-masing, musik yang bergema, pesta tanpa akhir yang dilakukan karena ada dua perayaan besar menunggu yaitu natal dan tahun baru seakan-akan membawa kita lebih dekat pada dunia dengan alasan sekali setahun sampai-sampai lupa bahwa Yesus sendiri datang dalam kesederhanaan, sepertinya kita sudah melupakan cara Yesus datang karena sudah diselamatkan, poin yang sangat penting dalam pengorbanan Yesus digantikan dengan tradisi duniawi tanpa makna yang berarti dan kemudian berhujung pada akibat-akibat yang kita temui belakangan ini, ricuh, perkelahian, mabuk-mabukan, nampaknya kita sudah sangat jauh dari gambaran kedatangan bayi Yesus itu sendiri. Ini lebih menggambarkan bahwa sebenarnya kita benar-benar tidak pernah siap akan kedatanganNya bahkan hanya dalam tradisi pun kita tidak bisa mempertahankan nilai-nilai tersebut. Momen natal yang akhirnya dibuat menjadi libur yang panjang sebenarnya harus menjadi momen refleksi akhir tahun pada iman kita sebagai umat percaya, bagaimana iman kita bertumbuh dengan keselamatan yang sudah Yesus jaminkan bahkan pada hari pertama kedatanganNya ke dunia sebagai bentuk pengorbanan bukannya membuat tradisi baru untuk menggabungkannya bersama-sama dengan pergantian tahun.
Postingan Sebelumnya : Menutup Tahun dengan Pengalaman Baru
Berbagai gambaran umat kristiani dalam mempersiapkan natal, menyongsong dan merayakan natal diatas sepantasnya menjadi peringatan untuk masing-masing pribadi,
"Apakah kita telah kehilangan makna sejati Natal di tengah kesibukan dan moderenisasi?"
"Apakah perayaan Natal kita mencerminkan nilai-nilai yang sama dengan kedatangan Yesus?"
"Bagaimana makna perayaan Natal yang kita lakukan menjadi dasar dan pedoman hari lepas hari?"
Sepulang saya setelah mendapat berkat pada kebaktian hari natal yang merupakan sebuah refleksi diri bahwa perayaan natal bukanlah repetisi tanpa makna dan bukan jadwal akhir tahun yang harus dilaksanakan dengan begitu riuh seperti panitia acara yang hanya ingin acaranya berlangsung dengan baik, namun kita adalah peserta yang harus memaknai tiap-tiap prosesi dari bagaimana kedatangan Yesus ke dalam dunia. Mari kita terus dengan kesederhanaan dan kesediaan merayakan kedatangan Sang Juruselamat dengan mengingat bahwa Natal bukan hanya perayaan tanpa makna, tetapi pengingat akan kasih Allah yang datang dengan sederhana namun tak terbatas.
Apa nilai dari natal kali ini untukmu? Jawab di kolom komentar.
Salam Damai Natal.




Merry Christmas 😇
BalasHapus